Saturday, 24 January 2026
Lingkungan BREAKING

SUNGAI TOMPONGBIRING CERMIN KEBERSIHAN GOWA BELAJAR DARI MASYARAKAT KALASE’RENA MENJAGA SUNGAI GOWA

Oleh Admin Teropong Gowa 06 Jan 2026 3 min read
39 views

Sungai Tompongbiring mencerminkan kebersihan Gowa berkat kepedulian warga Kalase’rena.

SUNGAI TOMPONGBIRING CERMIN KEBERSIHAN GOWA BELAJAR DARI MASYARAKAT KALASE’RENA MENJAGA SUNGAI GOWA

Sumber Foto : Nanda

Di tengah isu pencemaran lingkungan yang kian marak, Sungai Tompongbiring yang terletak di kelurahan Kalase’rena,Kecamatan bontonompo, lebih tepatnya di wilayah lingkungan giring-giring, hadir sebagai teladan nyata. Tanpa adanya program formal dari pemerintah setempat, kesadaran masyarakat diwilayah tersebut berhasil menjaga aliran sungai sepanjang 100 m itu tetap jernih.

Banyak artikel menyoroti bahwa kendala utama kebersihan sungai bukanlah masalah teknis semata, melainkan pola pikir masyarakatnya, namun dibeberapa daerah sungai masih dianggap sebagai “tempat pembuangan raksasa” karena kurangnya akses Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Salah satunya adalah Waste4Change.com yang menekankan bahwa pemberian sanksi sosial ( seperti pengumpulan pelanggar di forum desa) terbukti lebih efektif dibeberapa wilayah dibandingkan dengan larangan tertulis.

Ketua RW 1, Nurdin. Mengungkapkan bahwa meskipun belum ada program kebersihan khusus yang diatur oleh pemerintah setempat, kebersihan sungai tetap terjaga berkat kesadaran dan inisiatif warga.

“warga disini selalu jaga kebersihan sungai, kalau ada warga lewat atau adai di sawahnya to terus lihat sampah di sungai pasti mereka bersihkan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Lamina salahseorang warga kalase’rena, menegaskan bahwa kebiasaan membuang sampah ke sungai tidak ditemukan dilingkungannya.

Warga lebih memilih mengelola sampahnya dengan cara dibakar di halaman masing-masing.

“Tidak ada yang buang sampah ke alira sungai nak apa lagi di sungainya langsung karena sampah dri rumah disini biasa langsung dibakarji jdi tidak ada yang buang sampah ke sungai” jelasnya.

Kebersihan sungai Tompongbiring membawa dampak tersendiri. Setiap pekan sungai itu ramai pengunjung untuk mandi atau sekedar melakukan rekreasi seperti bakar ikan.

“ tambah banyak pengunjung atau mahasiswa yang datang kesana untuk mandi-mandi atau biasa juga disana bakar-bakar ikan terus juga tidak takutki to kalau kesana anakta main air karna bersihji airnya ituji nak,” tambah Lamina.

Namun, Nurdin mencatat bahwa kendala utama saat ini justru datang dari para pengunjung yang terkadang meninggalkan sampah setelah berwisata.

Menanggapi fenomena ini ahli lingkungan, Prof. Dr.Hafsan, S.Si., M.Pd., juga sebagai Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) di Universitas islam negeri alauddin makassar, mengingatkan bahwa polusi plastik di sungai saat ini sudah masuk kategori darurat sampah plastik yang sudah lama terendam akan hancur menjadi Mikroplastik.

“plastik yang sudah lama ada diperairan, itu akan hancur membentuk partikel-partikel kecil yang namanya Mikoplastik, jadi ini partikelnya kecil banget dan ini bisa diserap atau bisa dikonsumsi oleh organisme-organisme kecil seperti Planton, kerang-kerang ya seperti udang.” jelas Prof. Hafsan,

Beliau memuji kesadaran warga tompongbiring, namun tetap menekankan bahwa pemerintah setempat perlu menetapkan program kebersihan untuk memastikan keberlanjutan kebersihan sungai.

Sungai tompongbiring telah membuktikan bahwa harmoni antara manusia dan alam bisa tercipta dimulai dari hal-hal kecil dari tangan-tangan warga yang peduli.

Kini tantangannya adalah bagaimana menjaga konsistensi agar aliran air di sungai Tompongbiring tetap menjadi sumber kehidupan bukan sumber penyakit dan dapat menjadi contoh untuk aliran sungai lain di kabupaten Gowa hinggi daerah luar.

Editor : Ananda

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!